HOT NEWS
Selasa, 31 Juli 2012 10:54   
- Kasus Ledakan Menjelang Subuh

BATAM – Tindakan pengecut oleh orang tak bertanggung jawab kembali menebar teror kepada wartawan. Sebuah suar diledakkan di kantor koran nasional Haluan Kepri, Selasa (24/7/2012). Peristiwa tersebut merupakan kali kedua setelah pada tahun 2008 lalu, kantor koran milik Basrizal Koto itu juga jadi sasaran ledakan sejenis.

Seorang saksi mata menyebutkan bahan yang meledak itu berasal dari material berbentuk tabung pipa berwarna abu-abu dan dilemparkan oleh orang tak dikenal sekitar pukul 00.40 WIB dini hari. Bahan peledak tesebut meledak di atas mobil operasional Haluan Kepri dan separuh sisanya tak sempat meledak. Sisa bom yang masih aktif itu akhirnya diamankan oleh tim Jihandak Brimob Polda Kepri yang tiba beberapa saat setelah kejadian. Sementara, mobil operasional yang terkena ledakan tampak gosong di bagian atapnya dan kondisi penyok dengan cat terkelupas.

Peristiwa yang terjadi saat proses cetak koran yang dulu bernama Sijori Mandiri itu sempat membuat sejumlah karyawan terkejut. "Suaranya sangat keras dan saya bersama rekan-rekan sempat lari mencari sumber suara ledakan," kata Rudianto, karyawan percetakan Haluan Kepri. Selain karyawan Haluan Kepri, ledakan dari bom rakitan tersebut juga didengar oleh warga sekitar lokasi di Bengkong Garama dalam radius hampir 1 kilometer.

Sekitar 10 jam setelah kejadian, Kapolda Kepri Brigjend Pol Yotje Mende, langsung terjun ke lokasi kejadian untuk mengetahui peristiwa sebenarnya terjadi. Setelah melihat ke tempat kejadian perkara (TKP), menggelar pertemuan dengan para pimpinan Haluan Kepri serta menerima laporan hasil penyelidikan sementara, Yotje Mende mengatakan bahan yang meledak di Kantor Harian Haluan Kepri bukan bom melainkan sejenis Suar.

"Ini (peledak) hanya Suar, alat sinyal untuk digunakan di laut apabila terjadi SOS," ujarnya. Dijelaskannya, bahan yang meledak di bagian belakang Kantor Harian Haluan Kepri pada sekitar pukul 00.45 WIB tadi malam itu sejenis Suar yakni sebuah alat yang diledakkan untuk meminta pertolongan dalam keadaan darurat di laut.

Hal tersebut berdasarkan kesimpulan dari analisa yang dilakukan oleh Tim Jihandak Brimob Polda Kepri yang telah datang ke lokasi satu jam usai ledakan terjadi. "Kapal atau perahu nelayan biasanya membawa ini," sambung Yotje.

Alat tersebut terdiri dari alat pelontar dan ketika keluar isinya terbakar dan berkembang dan memiliki sebuah parasut kecil, ketika meledak menimbulkan warna. "Hasil pengecekan kita, alat ini diperjualbelikan secara bebas," lanjutnya.

Karena itu Kapolda menilai ledakan tersebut bukan tergolong teror bom namun bisa jadi hanya sebatas teror saja. "Tapi kami tetap menyelidiki motif dari peristiwa ledakan yang menimpa kantor Haluan Kepri ini," terangnya.

Selain itu, Yotje Mende menyampaikan pihaknya belum dapat menyimpulkan motif peledakan Kantor Harian Haluan Kepri. "Kejadian ini akan kita selidiki apakah berkaitan dengan pemberitaan atau tidak. Saya minta waktu untuk melakukan penyelidikan," ujarnya.

Namun yang pasti, katanya, dia mengutuk aksi peledakan tersebut bila tindakan itu merupakan bentuk teror dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Pihak kepolisian, katanya, tidak akan menolerir tindakan peledakan ini dengan melakukan tindakan tegas kalau ini merupakan aksi teror.

Dia mengaku sudah memerintahkan segenap pimpinan kesatuan polisi di Kepri guna menggesa pengusutan kasus ini. "Saya akan melibatkan seluruh fungsi saya langsung dibawah pimpinan Kapolretas Barelang sebagai pengendali lapangan," jelasnya. Selain itu, dia juga melibatkan langsung Kasat Brimob dan Direskrimum Polda Kepri guna menuntaskan penyelidikan peristiwa
peledakan ini.

Untuk sementara, lanjutnya, pihak kepolisian sudah meminta keterangan dari tiga orang karyawan Harian Haluan Kepri sebagai saksi, yakni dua dari bagian percetakan dan seorang lain adalah satpam kantor.

Ahmad Zulkani, Pimpinan Redaksi Haluan Kepri mengungkapkan, medianya sudah pernah mengalami aksi teror peledakan sebelumnya. "Haluan Kepri sudah pernah mengalami pelemparan peledak pada 2008 lalu," katanya.

Dituturkannya, pada saat itu ledakan terjadi di bagian depan gedung atau tepatnya di bagian luar ruangan kasir. Dia meyakini, komponen bahan yang meledak waktu itu sama dengan yang diledakkan tadi malam di bagian belakang gedung.

Peristiwa teror ke redaksi Haluan Kepri merupakan momok bagi perkembangan media di tanah air. Jika polisi tidak mampu menuntaskan kasus Haluan Kepri, tidak tertutup kemungkinan, hal serupa akan dialami media lainnya. Sebaliknya, jika polisi mampu menangkap para pelaku termasuk otaknya, para peneror lainnya akan berpikir dua kali untuk bertindak. (Yope)

Berita Keras Berbuah Teror

Kendati masih dalam penyelidikan pihak kepolisian, namun naluri para jurnalis menyebutkan bahwa pemicu teror terhadap kantor Haluan Kepri merupakan buntut pemberitaan secara keras dan kontinu media tersebut beberapa minggu terakhir. Ahmad Zulkani, Pemimpin Redaksi Haluan Kepri juga menyadari sinyalemen tersebut. Zulkani meyakini motif peledakan yang dialami kantor medianya berkaitan erat dengan isu-isu pemberitaan yang dipublikasikan.
Hal itu diyakininya mengingat pada 2008 lalu harian milik pengusaha Basrizal Koto itu pernah mengalami aksi peledakan dengan materi peledak yang serupa. Dimana ketika itu Pimpinan Haluan Kepri juga menduga kuat peledakan tersebut buntut dari pemberitaan-pemberitaan kritis yang sering dipublikasikan media tersebut.

Ahmad Zulkani mengakui beberapa waktu terakhir medianya memang sedang intens mengkritisi sejumlah persoalan yang terjadi di Kepri, khususnya di Batam. Seperti soal gula pasir impor ilegal, reklamasi pantai, penambangan ilegal pasir darat dan lainnya. Namun dia mengatakan tidak dapat memastikan isu mana yang paling memungkinkan menjadi pemicu tindakan peledakan oleh orang tak dikenal tadi malam.

Walaupun mendapat teror, lanjutnya, seluruh karyawan Harian Haluan Kepri sendiri, termasuk awak redaksi dipastikannya akan tetap bekerja seperti biasa. "Kami tidak akan mundur. Kami anggap seperti biasa saja, tidak merasa sedang diteror," tegasnya.

Kerugian materil berupa rusaknya sebuah unit mobil carry milik perusahaan akibat ledakan pun dianggap tidak menyurutkan Haluan Kepri untuk tetap menjalankan kegiatan jurnalistik. Secara teknis, Haluan Kepri pun, katanya, tetap terbit seperti biasa karena tidak ada gangguan mesin percetakan.

Aksi Solidaritas

Keesokan harinya, sekitar 30 wartawan dari berbagai media, baik cetak, elektronik maupun online, menggelar aksi solidaritas menyusul aksi peledakan di Kantor Harian Haluan Kepri.

Dalam aksi yang digelar di lobi Mapolresta Barelang, sejumlah wartawan tampak menutup mulutnya dengan plester sebagai simbol aksi peledakan terhadap salah satu kantor media massa di Batam itu merupakan upaya pembungkaman terhadap kebebasan pers.

Saat ditemui Kapolresta Barelang Kombes Karyoto, para wartawan menyampaikan sejumlah tuntutan. "Yang pertama, kami meminta bapak Kapolres mengusut peristiwa peledakan Kantor Haluan Kepri sampai tuntas," tegas Amir, salah satu juru bicara wartawan.

Hal itu dia katakan mengingat pada peristiwa peledakan yang sebelumnya juga pernah dialami Haluan Kepri pada 2008 lalu, polisi tidak tuntas mengungkapnya. Bila peristiwa kali ini tidak juga berhasil terungkap maka para wartawan, katanya, akan merasa ada pembiaran dari polisi terhadap tindakan pembungkaman terhadap media. "Kami meyakini peledakan Kantor Haluan Kepri, terlepas apakah menggunakan bom atau bukan, itu merupakan tindakan teror terhadap
kebebasan pers," jelasnya.

Selain mendesak pengusutan tuntas kasus peledakan Haluan Kepri, kepada Kapolres, Amir juga mengatakan kedatangan para wartawan ke Mapolresta juga sebagai bentuk solidaritas kepada Haluan Kepri atas terjadinya peledakan. "Peledakan yang dialami Haluan Kepri juga berarti peledakan media yang lain juga karena kami ikut merasakan," cetus Larno, salah satu wartawan. Dan terakhir, kepada Kapolres para wartawan juga meminta agar hasil pengusutan
diinformasikan secara transparan, siapapun pelakunya, sehingga tidak menimbulkan preseden buruk bagi polisi dan bagi kebebasan pers.

Kombes Karyoto, Kapolresta Barelang sendiri mengatakan, keberhasilan pengusutan kasus peledakan memerlukan kerjasama dari awak redaksi Haluan Kepri. "Keberhasilan pengusutan kasus ini ditentukan informasi dari para wartawannya," kata dia kepada para wartawan yang berunjuk rasa di Mapolresta.

Karena itu dia mengatakan dalam waktu dekat penyelidik akan memintai keterangan kepada seluruh staf redaksi Haluan Kepri. Hal itu dilakukan salah satunya untuk menjajaki kemungkinan apakah peledakan terkait dengan pemberitaan atau tidak. Informasi dari staf redaksi tersebut juga diperlukan guna melacak siapa otak pelaku peledakan tersebut. "Kami minta waktu untuk mengusut kasus ini. Ini tidak mudah karena bahan yang meledak itu sejenis suar yang bebas diperjual belikan di mana saja," kata Karyoto.

Selain itu Karyoto juga berjanji kepada para wartawan yang berdemo untuk mengusut kasus ini sampai tuntas, tidak seperti kasus serupa yang pernah dialami Haluan Kepri pada 2008 silam. Transparansi informasi hasil pengembangan penyelidikan juga dijanjikannya kepada para wartawan. "Kalau perlu, wartawan kami persilahkan mengikuti kegiatan sehari-hari satreskrim
kami menyelidiki kasus ini," sambungnya.

Kapolda Kepri Brigjend Pol Yotje Mende pun sudah memerintahkan jajarannya untuk membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus peledakan. "Intruksi Kapolda langsung kepada masing-masing satuan kerja, dan telah dibentuk tim untuk melakukan pengusutan ledakan yang terjadi di kantor media Haluan Kepri," ujar Kabid Humas Polda Kepri AKBP Hartono di tempat terpisah. Tim yang telah dibentuk Kapolda, katanya, merupkan tim gabungan dari Polda Kepri
dan Polresta Barelang guna melakukan penyelidikan dan pengusutan kasus peledakan suar di surat kabar tersebut.

Menurutnya, ledakan yang terjadi di kantor Haluan Kepri bukan hal yang biasa, namun harus benar-benar diselidiki. Mengingat, lokasi yang menjadi korban ancaman adalah kantor media yang memiliki atensi dengan kejadian tersebut. "Kalau ledakannya terjadi di tempat biasa, kita mungkin bisa berpikir itu hanya kerjaan orang iseng, meskipun tetap harus diselidiki. Namun, karena ini menyangkut media, berarti ini ada keterkaitannya dengan pemberitaan,"
ujarnya.

Rentetan Tindakan Tak Wajar Terhadap Pers

Aksi teror melalui ledakan terhadap Haluan Kepri secara tidak langsung merupakan tamparan bagi kepolisian. Bukti menunjukkan, polisi kurang sigap bertindak karena kasus yang terjadi pada tahun 2008 lalu pun, belum berhasil dituntaskan pihak kepolisian.

Tak heran, untuk menggenjot keseriusan polisi dalam menuntaskan kasus Haluan Kepri, tigapuluhan wartawan dari berbagai media menggelar aksi tutup mulut di Mapolresta Barelang. Aksi tersebut menggambarkan adanya upaya pihak tertentu untuk membungkamkan pers.

Jika ditelusuri, tindakan teror maupun pidana kepada insan pers di Batam sudah kerap terjadi. Pada tahun 2010 lalu, tindakan penganiayaan dialami Sandy, wartawan Batamtimes ketika menelusuri kasus dugaan suap pada proyek swastanisasi sampah di Kota Batam. Sandy yang ingin konfirmasi kepada Agussahiman, Sekdako Batam, malah mendapat perlakuan tidak wajar. Ia dicekik oleh Agussahiman. Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polresta Barelang, namun didamaikan secara sepihak tanpa diketahui redaksi Batam Times. Merasa tidak puas dengan perdamaian sepihak, redaksi Batamtimes pun membawa kasus tersebut ke Dewan Pers di Jakarta. Sayangnya, sebelum Dewan Pers menangani lebih jauh, media tersebut sudah vakum.

Dari Natuna Jasman Harun, Plt Kepala Dinas Pendidikan Natuna, dituding telah melakukan pelecehan terhadap profesi wartawan. Dalam suatu acara, Jasman mengungkapkan rasa kesalnya kepada wartawan. Akibatnya, kasus tersebut dilaporkan tertanggal 14 Juni 2012 lalu. Ironinya, belum ada perkembangan berarti yang dilakukan oleh Polres Natuna.

Wartawan senior di Provinsi Kepri Dungo Simanungkalit mengatakan sejak penandatanganan nota kesepatan (MoA) antara Kapolri dengan Dewan Pers, hubungan wartawan dengan kepolisian semakin baik. Karenanya, ia meminta polisi di Kepri tidak merusaknya hanya karena kepentingan oknum tertentu. "Jasman Harun sudah jelas menghina wartawan, berarti seluruh wartawan di Indonesia telah dilecehkan. Ini tidak bisa dibiarkan. Makanya kita minta kepolisian supaya menangani kasus ini secara profesional dan proforsional," katanya.

Dungo yang juga Wakil Ketua Serikat Pekerja Pers (SPS) Provinsi Kepri itu mengatakan, sebagai Plt Kepala Dinas, Jasman merupakan pejabat negara yang sejatinya tidak asal berbicara. Dikatakan, kalaupun Jasman pernah menghadapi oknum wartawan seperti yang disebutkannya, seharusnya tidak membuat kesimpulan bahwa seluruh wartawan demikian. "Kalau di daerah lain ada oknum kepala dinas pendidikan yang dipenjara karena korupsi, apakah dapat disimpulkan bahwa seluruh kepala dinas pendidikan, termasuk Jasman Harun sebagai koruptor? Ini harus bisa dipilah," katanya memberi gambaran.

Dungo juga menyesalkan adanya oknum yang mengaku sebagai wartawan, namun secara terang-terangan memihak Jasman. Ia mengibaratkan oknum tersebut sebagai wartawan yang melacurkan diri demi 'sesuatu' hal. Dungo malah meragukan profesionalisme oknum tersebut sebagai wartawan. "Jangan-jangan oknum seperti itu hanya memperalat profesi wartawan untuk kepentingan lain," katanya tanpa menyebut identitas oknum yang dimaksud.

( untuk selengkapnya buka e-paper PAB edisi-56 di www.pab-indonesia.com)



 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.