Politik
Panglima TNI Sematkan Bintang Kehormatan kepada Panglima TUDM

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?ui=2&ik=4187c9b0a3&view=att&th=13c4257c1517e5a3&attid=0.4&disp=inline&safe=1&zw&saduie=AG9B_P-mKqvDalQFtY2tSKMESlOB&sadet=1358329872691&sads=c3Zi6ZY0bEsrR35Q_GsCd5e3mME&sadssc=1Jakarta, PAB-Online
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., menyematkan  bintang kehormatan Swa Bhuwana Paksa Utama kepada Panglima Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) Jenderal Tan Sri Dato’ Sri Rodzali bin Daud di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (16/1).

Sebelumnya Panglima TNI didampingi Kasau Marsdya TNI I.B. Putu Dunia, Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Tisna Komara W., S.E, Aspers Panglima TNI Marsda TNI Bambang Wahyudi. S.Ip, Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, S.E., menerima CC (Courtesy Call) Panglima TUDM yang didampingi Brigjen Mohd Shabre bin Hj Hussein TUDM, Brigjen Anuar. Kunjungan Panglima TUDM dalam rangka meningkatkan kerja sama yang selama ini telah terjalin dengan baik.(Lim)

 
Dahlan: Saya Salah!

Jakarta, PAB-Online
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan menjawab semua kontroversi terkait mobil listrik Tucuxi, mulai dari perizinan, test drive hingga kasus kecelakaan yang dialaminya. Dahlan pun mengakui dirinya memang melakukan kesalahan.

Di hadapan wartawan Dahlan mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang melakukan pelanggaran terkait uji berkendara Tucuxi, hingga mengalami kecelakaan fatal di Magetan, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

"Saya menyadari sepenuhnya dan mengakui kalau saya salah dan melakukan pelanggaran. Tapi saya tidak melakukan kejahatan, karena apa yang saya lakukan merupakan demi kemajuan ilmu pengetahuan," tegas Dahlan Iskan di TIM, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2013).

Dahlan juga mengakui belum mendapatkan izin dari Kementerian Perhubungan dan juga dari kepolisian untuk melakukan uji berkendara mobil Tucuxi tersebut. Dahlan pun mengaku siap bila memang masalah ini akan diperkarakan.

"Jika memang masalah ini akan diperkarakan saya sangat siap sekali. Saya memang melakukan pelanggaran tapi bukan kejahatan." lanjut mantan Dirut PLN ini.

Kasus ini juga tidak akan menghentikan Dahlan Iskan dalam mengembangkan proyek mobil listrik nasional. Baginya, mobil listrik akan berkembang pesat dan Indonesia tidak boleh ketinggalan dari negara lain.(Zul/Okz/IP)

 
Koordinasi, Mabes Polri Sambangi KPK

Jakarta, PAB-Online
Mabes Polri menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk berkoordinasi terkait penggeledahan di Gedung Korlantas Polri, sejak Senin (30/7) lalu.

Mabes Polri yang diwakili Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri, Brigjen Boy Rafli Amar itu juga menjelaskan dugaan menghalang-halangi penyidik KPK saat menggeledah Gedung Korlantas.

"Kita memiliki semangat yang sama dalam pemberantasan korupsi. Jadi kami berkomitmen ikut berjuang dalam pemberantasan korupsi."

"Tidak ada niatan dari institusi Polri. Semuanya transparan akuntabel, objektif dan proporsional," ujar Boy saat menyambangi KPK, Jakarta, Selasa (31/7).

Dia mengatakan polisi sendiri telah melakukan penyelidikan atas dugaan korupsi terkait pengadaan alat simulator kendaraan untuk salah satu syarat memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM).

Pengadaan simulator kendaraan beroda dua dan empat tersebut menelan anggaran Rp18 miliar. Pada penyelidikan itu, polisi telah memeriksa 32 saksi.

Sebelumnya, KPK melakukan penggeledahan di Gedung Korlantas Polri di Jalan MT Haryono, Jakarta, sejak pukul 16.00 WIB, Senin (30/7).

Namun hingga pukul 03.30 WIB, Selasa (31/7), penyidik yang sudah selesai melakukan penggeledahan, tak bisa meninggalkan Gedung Korlantas untuk membawa sejumlah barang bukti.(MI/ZUl)

 
Trik Jitu Menginap di Daerah Terpencil

Jakarta, PAB-Online
Terkadang menyusuri keberagaman budaya dan keramahan suku suatu daerah tertentu tidak cukup dijelajahi dalam waktu sehari. Meski seru dan menyenangkan, mencari penginapan di daerah terpencil bukanlah hal yang mudah, untuk itu, yuk intip bagaimana tips menginap di daerah terpencil.

1. Banyaklah melakukan riset mengenai lokasi, kebiasaan, dan budaya dari daerah yang hendak Anda kunjungi.

2. Jika sudah di tempat tujuan, Anda bisa mengunjungi kepala desa untuk menanyakan perihal bagaimana izin penginapan.

3. Selain meminta izin untuk berkunjung selama beberapa hari, Anda juga bisa meminta izin untuk bermalam di rumah kepada desa. Untuk hal yang satu ini, banyak kepada desa yang biasanya mengizinkan para turis untuk bermalam di rumahnya.

4. Pilihan lainnya adalah menginap di rumah penduduk sekitar. Selain bisa menambah informasi mengenai daerah tertentu, bermalam di rumah penduduk juga bisa menambah khasanah budaya. Penduduk yang rumahnya Anda tempati selama beberapa hari biasanya akan menjadi pemandu wisata yang bukan sekedar informatif, namun juga menyenangkan.

5. Jangan lupa untuk menggunakan bahasa daerah mereka. Meski hanya sekedar kata-kata umum seperti 'terima kasih atau selamat pagi'. Hal kecil itu membuktikan bahwa Anda menghargai budaya masyarakat setempat. Selamat berlibur! (MI/CH)

 
Awas Intel

Putu Setia

Awas ada intel. Kalimat ini muncul di Facebook. Bagai gayung bersambut, ada komentar: “Bagi yang merasa dirinya intel, mengaku saja, akan saya delete. Saya suka bercanda, nanti dikira serius.”

Beberapa pengguna Facebook memang gelisah mendengar kabar para intelijen akan memantau semua jejaring sosial yang ada di Internet. Kabar ini bukan gosip, bukan pula isu baru untuk mengalihkan isu lama seperti yang biasa terjadi di negeri ini. Ini kabar serius, datang dari gedung parlemen saat memperbincangkan Rancangan Undang-Undang tentang Intelijen Negara.

Pasal 14 rancangan itu berbunyi: “BIN memiliki wewenang melakukan intersepsi komunikasi dan/atau dokumen elektronik, serta pemeriksaan aliran dana yang diduga kuat terkait dengan kegiatan terorisme, separatisme, spionase, subversi, sabotase, dan kegiatan atau yang mengancam keamanan nasional.” Dokumen elektronik itu bisa menjangkau jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, mailing list, dan sejenisnya. Sedangkan soal komunikasi bisa berarti penyadapan.

Luar biasa repotnya para intel kita nanti. Karena harus memelototi sekian banyak akun Facebook, Twitter, dan sejenisnya, lalu menyadap pembicaraan telepon, pesan pendek, dan berbagai komunikasi lewat saluran seluler. Belum lagi memilah mana obrolan yang serius dan mana obrolan bercanda.

Terorisme, separatisme, spionase, subversi, dan sabotase memang dikenali ciri-cirinya, meskipun bisa saja beda penafsiran. Tetapi soal “mengancam keamanan negara”, apa kriterianya? Kalau para intel secara gampangan memanfaatkan kewenangan ini, akan banyak orang dibuat susah. Apalagi kalau sang intel dimanfaatkan oleh kekuasaan, orang akan mudah sekali masuk sel untuk diperiksa. Bahwa setelah dilakukan pemeriksaan ternyata pesakitan itu tak terbukti melakukan yang dituduhkan, institusi intelijen dalam hal ini Badan Intelijen Negara akan membebaskannya dalam waktu tujuh hari. Lha, kok enak benar? Mestinya ada ganti rugi, ya, minimal minta maaf. Kalau mau adil, sang intel yang menangkap itu dimasukkan ke sel.

Namun jangan berburuk sangka terhadap para intel, baik intel yang serius dengan penyamarannya maupun intel di masa Soeharto yang celingak-celinguk di kerumunan wartawan dan kadang berbaik hati memperkenalkan diri: “Saya intel.” Kita membutuhkan aparat intelijen yang kuat. Dalam berbagai kasus kerusuhan maupun ledakan bom yang menimbulkan banyak korban, sering kita menyalahkan aparat intelijen yang tak bekerja dengan baik. Jadi, para intel memang harus diperkuat perlengkapannya dan juga kewenangannya. Masalahnya adalah, bagaimana mempergunakan “senjata” itu. Seberapa jauh mereka boleh menyadap, apa saja yang boleh disadap, dan bagaimana pertanggungjawabannya atas penyadapan itu. Siapa yang mengawasi mereka. Jangan sampai urusan pribadi yang tak ada kaitannya dengan “mengancam keamanan negara” juga disadap--apalagi kemudian dijual untuk tayangan gosip di televisi. Ini hanya misal.

Jangan terburu meloloskan rancangan undang-undang yang sangat penting karena menyangkut kehidupan banyak orang ini. Nasihat orang Yogya boleh dipakai kali ini: alon-alon asal kelakon. Diperjelas lagi kewenangan yang mungkin tumpang-tindih dengan instansi lain. Kita punya pengalaman pahit dengan kegiatan intelijen di masa lalu yang hanya jadi alat kekuasaan belaka, tak jelas mana kepentingan negara dan mana kepentingan penguasa untuk mempertahankan jabatannya. Peringatan di Facebook tentang “awas intel”, siapa tahu kelak berubah menjadi “syukur ada intel” karena negeri ini tenteram raharja.

 
Bom Ulat Bulu

Putu Setia

Polisi kembali dibuat sibuk oleh serangan bom. Bahkan menjadi korban, meski tak sampai nyawa melayang. Bom bunuh diri di masjid Kepolisian Resor Cirebon tatkala salat Jumat pekan lalu benar-benar membuat wajah polisi kembali garang. Lihat saja kantor polisi di seluruh Nusantara, semuanya dijaga ketat. Padahal, selama sepekan lebih, wajah polisi begitu humanis, polisi yang tersenyum menghibur, polisi yang dekat dengan rakyat, gara-gara polisi muda Briptu Norman Kamaru, anggota Brigade Mobil Gorontalo.

Apa pesan dari ledakan bom di Cirebon ini? Belum ada dari sang pengebom, karena dia sudah meninggal, entah komplotannya nanti. Akan halnya para pengamat, pesannya banyak, antara lain, polisi harus lebih tegas dan lebih cepat mengusut kasus-kasus bom yang selama ini belum selesai. Misalnya bom buku.

Sebenarnya ada lagi serangan lain, selain bom, yang sama dahsyatnya. Cuma, tak membuat polisi sibuk, yakni serangan ulat bulu. Serangan berawal di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, lalu merembet ke kabupaten tetangganya, kemudian menyebar ke Jawa Tengah, lalu muncul di Bali, menyerang wilayah Jakarta, terus ke Medan, juga ke Lombok, entah di pulau mana lagi. Serangan ulat bulu mengancam wilayah Nusantara.

Kali ini yang sibuk ahli pertanian, khususnya yang menangani urusan hama. Juga Menteri Pertanian. Hasil "intelijen" pakar hama menemukan hal yang menakjubkan: ulat bulu di Situbondo termasuk jenis baru, belum ada dalam literatur. Entah dari mana ulat bulu itu direkrut dan berkembang sebelumnya. Di daerah lain, ulat bulu itu termasuk "pemain lama". Yang belum diketahui, kenapa serangannya sambung-menyambung antarpulau di negeri ini? Bagaimana ulat bulu ini berkomunikasi antarwilayah, kok bisa melakukan serangan serempak? Kapan mereka mengadakan rapat gabungan, kok lebih kompak dibanding para elite partai yang berkoalisi?

Jangan remehkan serangan ulat bulu ini, kata peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ini masalah serius, kata profesor urusan hama dari Institut Pertanian Bogor. Akan halnya di Bali, para insinyur di Fakultas Pertanian Universitas Udayana "bangga" masuk televisi karena memelototi banyak ulat bulu di berbagai tempat. Selama ini yang kerap diwawancarai stasiun televisi hanya pengamat politik, bukan pengamat hama.

Lalu apa pesan dari serangan ulat bulu ini? Menteri Pertanian mengatakan wabah ini "soal biasa", yaitu adanya kelembapan akibat musim hujan yang panjang dan rusaknya ekosistem, misalnya burung pemakan ulat berkurang karena banyak dibedil manusia. Pakar pertanian menyebutkan, penggunaan pestisida berlebihan mematikan semut pemakan ulat. Intinya, mari kita benahi sektor pertanian dengan pengelolaan yang benar, jangan mengurusi politik saja.

Akan halnya Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie lain lagi. Ia menangkap hal-hal yang "tak biasa". Dalam wawancaranya di sebuah televisi, Marzuki menyebutkan serangan ulat bulu yang terjadi di berbagai daerah merupakan pertanda bahwa bangsa ini punya masalah, dan ini adalah peringatan dari "sana".

Saya sepakat--hanya dalam kasus ulat bulu ini--dengan Marzuki. Negeri ini sedang menghadapi cobaan akibat dosa-dosa tak berampun--mengutip judul film masa lalu. Sudah waktunya bertobat massal, minimal melakukan renungan dan introspeksi, apa yang salah selama ini. Ucapan Marzuki lebih bagus dibanding kalau anggota DPR lain yang ditanya dan kita menemukan jawaban: "Serangan ulat bulu, ledakan bom, kisruh PSSI, fenomena Briptu Norman, semuanya pengalihan isu dari kasus Bank Century." Wow....

 
Benih Terorisme di Sekitar Kita

Munculnya bom bunuh diri di Cirebon menunjukkan perang terhadap terorisme belum menyentuh akar persoalan. Sudah ratusan orang yang terlibat jaringan terorisme diringkus polisi, tapi tindakan represif belum membuat aksi radikal menghilang. Kita masih menghadapi pekerjaan besar untuk menumpas benih-benih kegiatan berbahaya ini.

Teror bom kali ini amat mengejutkan karena terjadi di dalam masjid, sesaat menjelang dilakukan salat Jumat. Tempat ibadah itu pun tidak berada di sembarang lokasi, melainkan di dalam kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat. Akibatnya, 26 polisi terluka, termasuk Kapolresta Ajun Komisaris Besar Herukoco.

Polisi telah mengidentifikasi bahwa pelaku bom bunuh diri itu adalah M. Syarif, pemuda yang lahir dan besar di wilayah tersebut. Diyakini, ia tak bekerja sendirian, tapi melibatkan jaringan yang lumayan kuat. Ini jelas merisaukan karena menggambarkan masih hidupnya kegiatan terorisme. Bagaimanapun, diperlukan proses cukup panjang untuk merekrut dan membujuk seseorang agar bersedia terlibat dalam aktivitas terlarang ini, apalagi sampai merelakan nyawanya.

Membongkar jaringan yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri tersebut mesti dilakukan. Publik perlu memberikan dukungan penuh kepada kepolisian karena sekarang mereka jadi sasaran teror. Bahkan mengungkap dalang di balik bom Cirebon pun belum menjamin bahwa kegiatan terorisme akan segera mereda. Pemerintah bersama masyarakat masih perlu menggencarkan gerakan melawan segala hal yang berhubungan dengan terorisme, dari ajaran sampai kegiatan mereka.

Terorisme akan terus muncul jika ideologi radikal masih dibiarkan bersemi di masyarakat. Para penganut radikalisme ini meyakini paham merekalah yang paling benar. Di Indonesia, radikalisme acap dilekatkan dengan gerakan Islam karena pelaku yang sudah tertangkap kerap mengklaim aktivitasnya sebagai sebuah jihad.

Deradikalisasi perlu dilakukan guna mencegah tumbuhnya ideologi ekstrem yang menabrak segala aturan masyarakat maupun negara itu. Gerakan antiterorisme ini juga bertujuan menebarkan keyakinan bahwa agama mana pun tak membenarkan aksi kekerasan dalam mencapai tujuan. Upaya tersebut sebenarnya sudah dilakukan kepolisian, namun hanya terbatas pada narapidana kasus terorisme dengan hasil belum optimal.

Tak sedikit narapidana kasus terorisme ini akan kembali beraksi begitu bebas. Di luar penjara, jaringan terorisme terus giat melakukan rekrutmen anggota baru, kebanyakan di antaranya dari kaum muda. Tertangkapnya enam remaja di Klaten yang berusia di bawah 20 tahun dalam kasus terorisme Januari lalu merupakan salah satu bukti. Data juga menunjukkan, di antara 500-an tersangka teroris yang ditangkap oleh Densus 88, sekitar 80 persen adalah kaum muda.

Penyemaian benih-benih radikalisme biasanya dilakukan secara sistematis, halus, dan tertutup. Aktivitas semacam ini mesti dilawan seluruh elemen masyarakat, seperti pengajar agama, guru, dan setiap keluarga. Masyarakatlah yang paling awal tahu setiap kejanggalan yang muncul di lingkungannya--termasuk yang muncul di kalangan pemuda. Tak perlu mencari jauh-jauh, benih-benih terorisme itu sangat mungkin berada di sekitar kita.

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.